penilaian property

Data Pasar Penilaian Aset

Teori Dasar dan Praktek Penilaian Property

 

Nilai Pasar Tanah

Pada saat survey pada suatu penilaian aset, selalu terlintas dalam pikiran kira :

Berapakah nilai pasaran tanah di daerah sini ?

Ada data dijual tidak ya...?

Ada transakasi penjualan tanah tidak ya...?

 

 

 

 
Holiday To Bali
Download Free Music
Download Hot Video
penilaian property

Enjoy your Holiday

penilaian property
Listen to free music downloads online! Search over 30000 Free MP3 Downloads, find songs, artists, genres and more - Free Legal Music Downloads site for ...
penilaian property
Online Video Clips offering daily, Free Music Videos, Movies, Free Movie Film, Video Games, Adult, Funny, Home Videos, Women, Teen Videos, ...

Berita: Ledakan Mal di Solo dan Yogya

Awal Desember 2004, puluhan ribu penduduk dari seluruh penjuru kota tampak memadati Jl. Slamet Riyadi, Surakarta (Solo). Maklum, di jalan protokol itu baru dibuka Solo Grand Mall (SGM), mal terlengkap dan terbesar di Kota Bengawan. ?Waktu pertama kali dibuka, pengunjung mencapai 40 ribu lebih. Sekarang, pada hari biasa rata-rata 25 ribu, tapi kalau liburan atau weekend bisa mencapai 30 ribu pengunjung,? kata General Manager SGM Yanto Zefani. Setelah dilanda kerusuhan Mei 1998 dan pasca Pemilu 1999, berdirinya SGM yang berkonsep mixed trade centre ini seperti menjadi simbol kebangkitan Solo. Sebaliknya Yogyakarta, yang sering disebut sebagai saudara tua Surakarta, tak pernah mengalami trauma apa pun. Yogya justru mendapat berkah dari setiap peristiwa kelam yang menimpa Solo. Itulah setidaknya yang diakui Bambang S. Priyohadi, Sekda Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). ?Terus terang peristiwa kerusuhan Solo memberikan andil besar dalam pertumbuhan ekonomi Yogya. DIY mengalami lonjakan besar setelah banyak pengusaha Solo yang mengalihkan bisnya ke Yogya,? kata Bambang. Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi DIY rata-rata 4,8% -- di atas angka pertumbuhan nasional. ?Faktor keamanan memang menjadi salah satu daya tarik kenapa banyak pebisnis Solo mengalihkan usahanya ke Yogya,? sambung Bambang. Bambang yakin prospek bisnis di Kota Gudeg sangat bagus. Sebagai indikator dia menunjuk banyak investor yang melirik kota ini sebagai ladang bisnis. Tak lama lagi, Yogya pun akan dijejali mal dan pusat perbelanjaan baru. Saat ini, misalnya, sedang dibangun Plaza Ambarukmo, yang menempati areal bekas Hotel Ambarukmo milik Kraton Yogya, seluas 2 hektare. Mal yang dikelola PT Putera Mataram Mitra Sejahtera (PMMS) ini diproyeksikan sebagai mal terbesar di Jawa Tengah dan DIY. Menurut Tjia Edi Susanto, Direktur PMMS, Plaza Ambarukmo menelan investasi Rp 240 miliar. Tidak semuanya dibangun atas rekening PMMS. Untuk membangun mal yang dicanangkan menjadi tempat belanja sekaligus wisata itu, PMMS menggandeng Dody Bayuaji (Alfa Retailindo) dan Bambang Sulistyo (HM Sampoerna). Meski belum jadi, Plaza Ambarukmo telah memiliki beberapa anchor tenant, antara lain Carrefour, Cineplex 21, Gramedia, dan Matahari Department Store. ?Kalau tidak ada halangan, awal tahun depan, Plaza Ambarukmo sudah beroperasi,? kata Tjia, yang yakin plaza ini akan diterima masyarakat dan mampu break even point dalam 4-5 tahun. Selain Plaza Ambarukmo, Yogya bakal diramaikan Makro dan Saphir Square yang kini juga dalam tahap pembangunan. Sebelumnya malah sempat ada ekspose bahwa PT Karunia Sejahtera Mandiri akan membangun Marvin Reeves Trade Centre di Jl. Magelang Km 4, Yogya. Cuma belakangan tak terdengar gaungnya. Sebuah sumber menyebut Marvin Reeves tak jadi dibangun karena bisnis mal di Yogya dinilai sudah jenuh. Sebagai indikator, ia menunjuk Jogjatronik -- mal di Jl. Brigjen Katamso dan dirancang PT Kaidi Indojaya sebagai pusat elektronik terbesar di DIY -- ternyata sepi pengunjung. Memang untuk membangun mal lagi di Yogya, menurut Bambang, para investor mesti berpikir ulang. Untuk menarik konsumen dari kota sekitarnya seperti Purwokerto, Kebumen, Purworejo, Magelang, Klaten dan Solo saat ini tidaklah gampang. Sebab, Solo -- kota bisnis terbesar di Ja-Teng yang dulu mati suri -- kini bangkit kembali lewat SGM. Apalagi, salah satu pemilik SGM adalah Willy Widodo Herlambang, pemilik rumah makan Grup Adem Ayem yang reputasi bisnisnya dikenal tangguh. Investasi yang dipertaruhkan di SGM sendiri mencapai Rp 175 miliar. Willy memang tidak sendirian membangun mal seluas 63 ribu m2 di atas lahan 1,2 ha itu. Dia telah menggandeng jagoan properti dari Bandung, Chandra Tambayong (pemilik Bandung Inti Graha). Dengan kontribusi 50:50, mereka mendirikan PT Prasarana Griya Sarana Bangun. Perusahaan inilah yang memayungi operasional SGM. Menurut Yanto, pendirian SGM sebenarnya obsesi Willy sejak 1996 yang baru terwujud setelah ketemu Chandra. Setelah terwujud, hasilnya layak dibanggakan. SGM langsung mendapat tempat di hati masyarakat Solo. Bahkan Hypermart, yang menempati areal 5.000 m2 di SGM, mencetak omset terbesar dibanding Hypermart lain di Indonesia saat pembukaan. Omsetnya seperti dikatakan Yanto, sampai di atas Rp 1 miliar. Tenant besar lain seperti Matahari Department Store, Gramedia, Timezone, Fila Sport, KFC, Texas Fried Chicken dan Salon Rudy Hadisuwarno, juga membukukan penjualan bagus. Namun, SGM nampaknya tak akan lama malang melintang sendirian di Solo. Tak lama lagi, mal dan trade centre lain segera meramaikan kota ini. Ciputra Sun Mall (milik Grup Ciptra dan Sun Motor), misalnya, siap menyusul. Ditambah: Mall Laweyan, Shoping Mall, Solo Square dan Pusat Grosir Solo. Daftar ini bisa diperpanjang, misalnya dengan Beteng Trade Centre (BTC), yang kini akan dihidupkan kembali dari puing-puingnya oleh sang pemilik Kunto Harjono. Di Solo, Kunto dikenal sebagai pengusaha properti di bawah bendera Pondok Solo Permai. Untuk menghidupkan kembali BTC, Kunto telah menggandeng Willy. Willy dan Kunto yakin bahwa pasar bisnis mal di Solo masih besar. Jauh lebih besar ketimbang di Kota Gudeg yang sudah jenuh. Willy mengklaim, dari 550 gerai yang disewakannya di SGM, 75% sudah laku. Jangka waktu sewanya 5-20 tahun dengan tarif Rp 100-150 ribu/m2/bulan. ?Kami menargetkan semua gerai akan buka pada Juni mendatang,? kata Yanto. Toh dia belum puas. Untuk meramaikan SGM, dia menjalin kerja sama dengan PT Mavindo Pratama, event organizer yang khusus mengelola pameran di mal. Lewat kerja sama itu, beberapa pameran telah diselenggarakan di SGM, misalnya pameran otomotif, perumahan, elektronik, kerajinan, dan lain-lain. Hasilnya? ?Cukup bagus. Banyak transaksi terjadi setiap kali pameran. Respons masyarakat sangat antusias untuk ikut pameran,? kata Rahmad Hidayat, bos Mavindo Pratama. Misalnya, ?Toyota berhasil memperoleh order penjualan 50 unit mobil dalam pameran,? tambahnya

Penilaian Property
Tentang Saya
Blog Sebelumnya
Semua

Penilaian Property


 

Belum menemukan yang anda cari ? Silahkan cari di sini

Google

Price List Machinery  |  Hotel Bali   |   Bali Story   |   Wisata Bali   |   Pantai Bali   |   Wisatawan Bali

Kampanye Damai Pemilu 2009